Leave a comment

Dari Peresmian Bandara di Pasbar


Jarak Tempuh Padang-Pasbar jadi 30 Menit

BANDARA

Tepat pukul 10.50 WIB, pesawat terbang Cessna Caravan 208-B mendarat mulus, di Bandara Laban, Pasaman Barat (Pasbar), Rabu (14/12). Kedatangan pesawat tersebut menandai peresmian bandara dan penerbangan perdana Susi Air melayani rute penerbangan Pasbar-Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Seperti apa penerbangan perdananya?

Suara azan dan doa selamat mengiringi kedatangan rombongan pesawat Susi Air take-off dari BIM, Padangpariaman. Bupati Pasbar Baharuddin R tak dapat menahan rasa harunya hingga menangis, ketika menuruni jenjang pesawat yang dipiloti Christian asal Australia itu. Selain Bupati, juga terlihat CEO PT Susi Air Pudjiastuti, Kepala Dinas Perhubungan dan Kominfo Sumbar Akmal  dan para kru Susi Air serta sejumlah wartawan.

Ribuan masyarakat mulai dari anak-anak hingga dewasa bersama ninik mamak, alim ulama dan cadiak pandai, serta wali nagari yang hadir, juga terlihat bahagia karena daerahnya memiliki bandara. Mereka jadi punya pilihan bila ingin menuju Padang, selain melewati jalur darat.  Kehadiran Bandara Laban Kapar bisa memangkas waktu selama ini mencapai 5 sampai 6 jam (menggunakan jalur darat, red), kini sudah bisa dijangkau lewat udara hanya dalam waktu 30 menit.

Baharuddin R menyebutkan, pembangunan bandara dan pembukaan rute penerbangan dari Pasbar ke BIM dan daerah lainnya di Indonesia, untuk kepentingan masyarakat Pasbar. Ini bagian upaya mendorong peningkatan perekonomian daerah.
”Alhamdulillah, bandara Pasbar resmi dibuka. Dan, diharapkan dapat memacu ekonomi masyarakat lebih maju dan makmur,” ujar Baharuddin R, di sela-sela peresmian bandara di Laban Kapar, Jorong Padanghalaban, Kenagarian Kapar, Kecamatan Luhak Nan Duo, Pasbar. Keberadaan bandara ini akan lebih memudahkan masyarakat untuk bepergian ke luar daerah Pasbar. Begitu juga bagi masyarakat, perantau, investor dan lainnya.

Kepala Dinas Perhubungan dan Kominfo Pasbar, Mardani menyebutkan, program pembangunan bandara ini telah dilakukan sejak Juli 2011 lalu.  Artinya, dalam rentan waktu lima bulan, bandara siap dioperasikan dari Pasbar ke daerah lainnya.
”Dalam waktu lima bulan saja, bandara di Pasbar dapat dimanfaatkan. Dan, bagi masyarakat yang ingin bepergian ke luar daerah Pasbar akan dapat mengefisienkan waktu,” terang Mardani, seraya menyampaikan bahwa tahun 2012 nanti akan dilakukan upaya peningkatan pembangunan bandara termasuk, menanam rumput hias, mengaspal jalan dan lainnya.

Sekadar diketahui, bagi warga yang ingin menuju ke Bandara Laban Kapar, Pasbar cukup mudah. Karena jarak dari terminal Simpangampek hanya sekitar 7 km. Arah ke Sasak untuk sampai ke lokasi bandara.

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno dalam sambutannya yang disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumbar, Akmal mengharapkan, keberadaan bandara di Pasbar agar pemilik Sushi Air berani berinvestasi di Pasbar. ”Jadikanlah bandara Pasbar jadi homebase (pusat operasi) untuk wilayah Sumatera bagian tengah karena letaknya strategis,” kata Gubernur.

Seluruh bupati/wali Kota se-Sumbar juga diharapkan bisa mempersiapkan bandara khusus untuk mitigasi bencana. Pemanfaatan jalan lurus sepanjang 2-3 km dengan perkerasan tertentu dan marka bandara. Sehingga, saat terjadi bencana dapat dipergunakan untuk droping bantuan, evakuasi korban guna proses penyelamatan ke rumah sakit atau tempat tertentu.

”Gubernur sangat mendukung keberadaan bandara, karena untuk kemajuan daerah. Untuk itu, setelah diresmikan agar merawat dan memanfaatkannya, termasuk masyarakat. Sehingga tujuan awal dibuat bandara ini tidak sia-sia,” kata Akmal.
Terkait nama bandara Pasbar, dalam waktu dekat ini agar dicarikan namanya yang pas. Kepada PT Susi Air, Gubernur mengusulkan agar membuka rute padat penumpang. Seperti rute Pasbar-Gunungsitoli (Nias), Pasbar-Aekgodang (Tapsel), Pasbar-Sibisa (Prapat, Sumut), Pasbar-Pakanbaru, Pasbar-Dumai, Pasbar-Pasirpangaraian.

CEO PT Susi Air, Susi Pudjiastuti mengutarakan kesalutannya atas kerja keras Pemkab Pasbar dengan menghadirkan kembali bandara di Pasbar. Dia juga menyatakan kekagumannya atas sambutan yang luar biasa dari masyarakat Pasbar. ”Semoga ini awal dan pertanda kemajuan bagi Pasbar ke depannya,” kata Susi saat memberikan kata sambutan.

Susi juga bercerita pahit manisnya merintis usaha penerbangan ini. Dia merintis usahanya di bidang ekspor perikanan, seperti lobster, udang dan lainnya yang berkembang sehingga dia mampu membeli puluhan pesawat jenis Cessna Caravan. Sejak terjadinya tsunami Aceh, dan dilatarbelakangi ingin membantu masyarakat yang terkena bencana, maka berkembanglah usaha penerbangan Sushi Air hingga memiliki 47 unit pesawat yang tersebar pada seluruh Indonesia. Yang mampu menghubungkan daerah yang tidak terjangkau transportasi darat di Indonesia.

Dia menyebutkan bahwa manajemennya punya filosofi bahwa dengan 1 km bisa mempengaruhi dunia. Begitu juga, dunia juga bisa masuk ke 1 km. Artinya, dengan 1 km bandara bisa mengantarkan kita ke seluruh dunia. Saat ini, Sushi Air sudah mempunyai jadwal penerbangan antara lain Bengkulu, Aceh, Riau, dan Sumut, Kalimantan, Papua, dan beberapa daerah lainnya. (eri/rm)

sumber;  Padang Ekspres • Kamis, 15/12/2011 09:45 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: