Leave a comment

Setengah Abad Nagari Sasak Melawan Abrasi


VIVAnews – Setengah abad berlalu. Dusun atau Jorong Pondok, kian mendekat dengan garis pantai. Abrasi telah membenamkan sekitar 350 meter daerah bibir pantai di Jorong Pondok, Nagari Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pesisir, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Empat tahun lalu tragedi terparah terjadi. Gelombang pasang Samudera Hindia menghancurkan lalu membenamkan 100 rumah. Mereka pun mengungsi. Kini, sebagian dari korban abrasi menempati 64 unit perumahan nelayan yang dibangun Dinas Kelautan dan Perikanan pada akhir tahun 2008 lalu.

Belum cukup sampai di situ. Setiap tahunnya, dusun yang dihuni 607 kepala keluarga ini juga menjadi langganan banjir akibat luapan Batang Kapa dan Batang Hampu yang berada di arah timur dan utara dusun ini. Tertutupnya kanal yang menghubungkan dua hilir sungai ini ditengarai menjadi penyebab kawasan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia ini kerap menjadi langganan genangan banjir.

Sejarah dusun mencatat, gempa dan tsunami Aceh tahun 2005 mengakibatkan sekitar 100 rumah penduduk di jorong itu hancur. “Abrasi ini ancaman yang sejak tahun 1960-an terus berulang dan menghantui perkampunang nelayan Pondok,” kata Direktur Daulat Institute, Rustam kepada VIVAnews, Selasa 14 Februari 2012.

Terhitung sejak tahun 1998, sekitar 300 unit rumah warga hancur dihantam abrasi. Kondisi ini memperburuk perekonomian masyarakat yang pada akhir 2011 lalu juga dihantam banjir yang merendam sekitar 300 rumah warga setempat.

Ritual Tolak Bala

Awal Februari lalu, warga setempat menggelar Ritual Ratik Tolak Bala. Semacam doa bersama meminta pada Yang Kuasa agar hasil tangkapan ikan nelayan setempat membaik dan terhindar dari bencana. Ritual digelar karena tiga bulan terakhir hasil tangkapan menurun.

“Biasanya sekali turun ke laut bisa menghasilkan ikan senilai Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Itu sudah pendapatan bersih, kini hanya Rp100 ribu,” kata Arman, Wali Nagari Sasak, 7 Februari 2012, saat ritual tolak bala.

Ritual dimulai warga dengan melakukan dzikir dan tahlil di dua masjid yang berbeda. Masjid Nurul Huda dan Masjid Nurul Hidayah yang berada di bagian utara dan selatan perkampungan menjadi lokasi utama. Kedua kelompok ini berjalan pada satu tujuan yakni Muara Merdeka sambil melafaskan dzikir dan tahlil.

Di Muara Merdeka, mereka mengumandangkan adzan dan diakhiri dengan membaca doa. “Usai doa, kami lanjutkan dengan makan bajamba (makan bersama),” kata tokoh masyarakat Pondok, Bahtiar (61 tahun).

Usai makan bersama, warga melarung air yang telah didoakan tokoh agama setempat menyirami pantai. Seember air yang dicampur jeruk nipis ini dibuang ke laut pertanda harapan dan doa warga sekitar untuk terhindar dari bencana. Uniknya, perempuan tidak diperkenankan untuk mengikuti ritual itu.

“Itulah tradisi kami dan tidak boleh diikuti kaum perempuan,” kata Bahtiar. Peran perempuan dalam tradisi ini sebatas menyiapkan makanan yang berasal dari sumbangan sejumlah warga Jorong Pondok.

Bangun Shelter

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasbar Yunaldi yang dikonfirmasi terkait persoalan ini mengaku telah menurunkan tim untuk memotret kondisi di lapangan. Dalam waktu dekat, pemerintah daerah setempat berencana memindahkan sekitar enam unit rumah warga di Jorong Pasa Lamo, Nagari Sasak.

“Nagari Sasak ini memang menjadi pusat perhatian kami dan BPBD telah mengajukan dana pada BNPB Rp15 miliar untuk pengurangan risiko bencana,” kata Yunaldi pada VIVAnews, Selasa, 14 Februari 2012.

Dana itu direncanakan untuk membangun shelter untuk menghindari warga di Nagari Sasak dari ancaman tsunami. Sedikitnya, dua gedung yang difungsikan sebagai shelter tsunami dibangun di nagari itu dalam tahun 2012.

Shelter ini dibutuhkan mengingat tak satu pun dataran tinggi yang bisa dimanfaatkan warga setempat sebagai lokasi evakuasi saat terjadi tsunami. BPBD setempat juga telah membangun grip atau pemecah ombak di bibir pantai.

“Sampai sekarang baru dua grip yang dibangun,” kata dia. Sedikitnya, puluhan grip dibutuhkan untuk mengurangi laju abrasi di garis pantai sepanjang 7 kilometer itu. (umi)

• Sumber: VIVAnews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: