Leave a comment

Pasbar-Korsel Kerja Sama Green Energy


Padang, Padek—Korea Electric Power Industrial Development (KEPID) dengan Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat sepakat memanfaatkan limbah pabrik kelapa sawit dalam proyek green energy untuk bahan baku pembangkit listrik.
Di Pasbar, akan didirikan pabrik pengolahan residu minyak sawit mentah (CPO) atau cangkang sawit menjadi bahan baku energi baru powerplant Korea Selatan berupa EFB pellet dan biogas powerplant. Ekspor bahan baku listrik dari residu CPO ini akan dimulai 2013 atau 2014 mendatang.
Kesepakatan itu ditandatangani Bupati Pasbar Baharuddin R dan Presiden Komisaris KEPID, Kim Young San, saat kunjungan resmi ke Seoul, Korea Selatan, didampingi Sekda Pasbar, Yulrizal Baharin dan Kadis Perkebunan Pasbar, Alfitri Noven, pada 12-17 Februari lalu. Diungkapkan Baharuddin R, dalam agreement atau kesepakatan itu, KEPID akan mengembangkan teknologi dan melakukan investasi serta konstruksi dalam rangka proyek EFB pellet dan biogas powerplant.
Sedangkan Pemkab Pasbar, menjamin kelancaran pelaksanaan proyek ini, termasuk ketersediaan suplai bahan baku, lokasi pabrik yang ideal, dan kelancaran perizinan sesuai aturan.
“Kita bersedia menjamin suplai bahan baku proyek ini kepada KEPID minimal 20 tahun, didukung peraturan daerah yang menjamin ketersediaannya. Sebelumnya, kita telah punya Perda Pengendalian Cangkang Sawit, di mana 60 persen dikendalikan pemerintah dan 40 persen oleh swasta dan masyarakat. Ini sekaligus menjadi jaminan bagi kita untuk pelaksanaan proyek ini,” kata Baharuddin, didampingi Yulrizal Baharin kepada Padang Ekspres, kemarin (4/3).
Rencananya, kata Baharuddin, lokasi pembangunan pabrik di Kinali seluas 5 hektare.
Setelah tahap I selesai, akan dibangun lagi pabrik kedua di Airbangis, lebih dekat ke Pelabuhan Teluk Tapang.

“Makanya, kita mengupayakan Pelabuhan Teluk Tapang bisa dioperasikan secepatnya. Sehingga, bisa mempermudah akses pengiriman bahan baku pellet serta ekspor lainnya dari Pasaman Barat dan sekitarnya. Kalau lewat Teluk Bayur, kita khawatir akan merusak jalan nasional dan provinsi yang dilewati, karena diangkut dengan kontainer,” tutur Baharuddin.
Saat ini, ketersediaan bahan baku cangkang sawit atau TBK di Pasbar mencapai 580 ribu ton per tahun. Pabrik pengolahan residu CPO menjadi pellet ini dapat mengolah 400 ribu ton TBK per tahun. Jumlah tersebut mampu menghasilkan 100 ribu ton pellet per tahun atau 8.333,33 ton per bulan. Setara dengan 333 kontainer per bulan dengan kapasitas 25 ton per kontainer.
Yulrizal Baharin menambahkan, Korea membutuhkan energi listrik yang sangat besar untuk publik, serta industri menengah dan berat. Pihak yang bertanggung jawab untuk ini adalah Korea Electricity Power Cooperation (KEPCO). Sedangkan KEPID, merupakan badan usaha negara yang khusus bergerak di bidang industri.
“Advantage trading-nya bagi Pasaman Barat atau Sumbar akan nyata menguntungkan pemerintah daerah dan petani sawit. Sebab, ketergantungan Korea atau dunia pada Sumbar akan semakin besar pula. Sehingga, pihak Korea pasti berkepentingan membela keberadaan dan kelangsungan perkebunan di Indonesia. Mereka tentu akan berpihak langsung atau tidak langsung apabila terjadi ancaman perdagangan minyak sawit terhadap Indonesia,” tandasnya. (no)

 

Sumber: Padang Ekspres

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: