Leave a comment

PT Bakrie Pasaman Plantations Didemo Petani


pasamanbarat, Haluan—Dinilai tidak memenuhi janji, ratusan warga Sarasah Betung, Nagari Sungai Aua, Kecamatan Sungai Aua, Pasaman Barat (Pasbar) mendemo PT Bakrie Pasaman Plantations, Kamis (15/3).

Warga  menuntut janji perusahaan memberikan lahan yang berada di lokasi PT Bakrie Pasaman Plantations seluas 400 hektare yang belum diserahkan. Mereka berdemo di gerbang perusahaan PT Bakrie Pasaman Plantations di Sungai Aua. Pendemo tak bisa masuk karena dihadang puluhan petugas satuan pe­nga­man (Satpam) perusahaan itu.

Ketua Kelompok Tani Sumber Hidup, Awizar kepada wartawan mengatakan, mereka tidak akan berhenti dan pergi dari lokasi tersebut sebelum tuntutan mereka dikabulkan pihak perusahaan.

“Masalah ini sudah pulu­han tahun lamanya, tapi tak ada titik terang. Pihak peru­sahaan mengabaikan janjinya untuk memberikan lahan milik atau hak Kelompok Tani Sumber Hidup seluas 500 hektare,” teriak Awizar.

Dijelaskan, hampir  dua puluh tahun mereka mengaku dizalimi, tidak diberikan hak-hak yang seharusnya mereka terima. “Kami akan terus memperjuangkan hak kami, sampai kapanpun juga,” ujar Awizar diamini ratusan ang­gota kelompok tani lainnya.

Disebutkan, munculnya persoalan ini, berawal dari surat perjanjian yang diakta notariskan  2000 lalu. Sesuai  Berita Acara 17 Mei 2000. Disepakati lahan plasma kelapa sawit Kelompok Tani Sumber Hidup  seluas 500 hektare untuk jumlah anggota 299 kepala keluarga (KK) dipindahkan ke lokasi lain.

Penyediaan lahan meru­pakan tanggung jawab Kelom­pok Tani Sumber Hidup, penguasa ulayat dan peme­rintah daerah. Sedangkan penyedia dana dan pembe­basan lahan tanggung jawab PT Bakrie Pasaman Plan­tations. Dulu lahan anggota itu karet, tapi karena sudah ada perjanjian warga setuju untuk dibuka perkebunan sawit, tapi setelah berhasil pihak perusahaan tidak mem­perdulikan anggota kelompok tani lagi.

“Perusahaan melanggar janji, kami sudah menye­diakan lahan, tapi perusahaan berdalih dengan alasan lahan yang kami sediakan itu tidak layak. Padahal, perusahaan sudah menyerahkan pencarian lahan kepada kami. Ini bukan setahun dua tahun lagi, tapi puluhan tahun kami disiksa PT Bakrie Pasaman Plan­tations,”sebut Awizar.

Masih menurutnya,  peru­sahaan juga telah berjanji menyerahkan dana Rp280 juta, dengan rincian, Rp250 juta dana partisipasi, Rp20 juta untuk modal koperasi, Rp10 juta untuk pembangu­nan jembatan. Bahwa dengan diserahkannya sesuai isi perjanjian itu, maka habislah permasalahan yang terjadi.

“Janji itu semua tidak dipenuhi, kami sudah bosan  mendengarnya,  urusan ke sana ke sini bahkan sudah sampai ke Menteri,” im­buhnya.

Diintegrasikan

Sementara lahan peng­ganti yang dicarikan Kelompok Tani Sumber Hidup tersebut sudah didapatkan sejak tahun 2001.  Lahan itu berada pada Kelompom Tani Rabi Jonggor Malintang Jaya. Kedua ke­lompok tani itu sudah sepakat bahwa kelompok Tani Sumber Hidup diintegrasikan kepada kelompok Tani Robi Jonggor Malintang Jaya.

Lahan seluas 500 hektare  diperuntukkan untuk kelom­pok tani yang berintegrasi dengan pemilik sebanyak 250 KK. Lahan inilah menurut PT Bakrie Pasaman Plantations tidak cocok. Dan 16 Oktober 2003 sudah ada surat pernya­taan dari Penghulu Tamiang, Penghulu Batang Ampalu dan penghulu Simpang Naraco beserta pemandu masyarakat di bawah naungan Ampek Suku di Ampalu.

Dengan kata sepakat telah menyetujui penyediaan lahan seluas 1000 ha untuk kelom­pok tani, 50 persen untuk Keltan Sumber Hidup atas nama PT Bakrie Pasaman Plantations, 50 persen lagi untuk KLT masyarakat  Ta­miang Ampalu.

Disebutkan, Bupati Pasa­man pada tahun 2003 (saat itu Pasaman belum dime­karkan dengan Pasaman Barat) juga sudah menge­luarkan surat nomor: 130/3048/Pem-2003 yang ditanda­tangani Bupati Drs. H Baha­ruddin R. Bahwa dalam surat itu tertuang, sesuai perjanjian tanggal 20 Juni 2000 sudah didapatkan lahan di Tamiang Ampalu, Nagari Parit Keca­matan Koto Balingka karena lahan sebelumnya yang di­ajukan sebelumnya pihak PT Bakrie Pasaman Plantations keberatan karena berada di Gunung Malintang.

Sehingga anggota Keltan Sumber Hidup mengambil alih lahan mereka seluas 500 hektare dikelola PT Bakrie Pasaman Plantations. Pada surat itu Bupati meminta kepada pihak perusahaan untuk menyelesaikan perma­sa­lahaan itu, untuk meng­hindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Sudah banyak surat tidak diindahkan perusahaan, bah­kan kami juga akan mela­kukan demontrasi lebih besar, sebelum ada kata sepakat dari  PT Bakrie Pasaman Plantations,” tandas  Sekre­taris Keltan Sumber Hidup, Bustami di­dampingi Maton­dang.

Terkait dengan aksi demo itu, sejumlah anggota Polres Pasbar telah siap berjaga-jaga mengamankan demonstrasi. Dan massa belum berhasil memasuki pabrik perusahaan, karena dihadang oleh puluhan satpam perusahaan. Dan massa juga menghentikan setiap ada kendaraan mem­bawa sawit di pintu gapura perusahaan tersebut. Semen­tara itu, hingga berita ini diturunkan Haluan belum berhasil menghubungi pihak perusahaan. (h/nir)

 

Sumber: harianhaluan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: